Gallery

First Journey to 3.078 MSL

Holla gaesss this is my third post haha…

Kali ini gua mau berbagi cerita tentang perjalanan gua ke atapnya Jawa Barat nih. Yaps gunung ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Gunung ciremai atau orang sunda sih biasanya bilang gunung cermei termasuk ke dalam 2 wilayah kabupaten, yakni Majalengka dan Kuningan tapi bukan kuningan yang ada kota kasablankanya ya gaes.

Gunung ciremai memiliki ketinggian 3.078 MSL (mean sea level) dan memiliki 3 jalur pendakian yang resmi yang dikelola oleh TNGC (Taman Nasional Gunung Ciremai), yaitu jalur apuy (Majalengka) dan linggarjati serta palutungan (Kuningan).

Oiya gua mendaki ciremai ini bareng sama om gua (atau orang sunda biasa bilangnya mamang), temennya om gua, dan sepupu gua. Nah karena rumah nenek gua ini di daerah Majalengka, makanya kemaren kami melakukan pendakian via apuy yang dikenal memiliki medan lebih mudah dibandingan linggarjati dan palutungan, maklum pendaki amatiran.

Perjalanan kami menuju 3.078 MSL ini dimulai dari rumah nenek gua di daerah Cigasong, Majalengka pake motor sekitar pukul 11.00. Bagi pendaki dari luar Majalengka yang ingin mendaki via apuy ini bisa menggunakan transportasi umum minibus elf ke arah Cikijing dari perempatan Cigasong dengan biaya sekitar Rp 5.000 – Rp 10.000 dan turun di terminal Maja. Kemudian dilanjutkan dengan menyarter mobil pick-up dari terminal Maja dengan biaya sekitar Rp 20.000/orang (tapi tergantung banyak orangnya juga sih) sampai pos 1 pendakian ciremai via apuy (pos berod). Jalanan menuju pos berod ini melewati perkampungan warga dan jejeran perkebunan warga yang photoable banget gaes kaya di lukisan2 gitu dah pokoknya but jalanannya super gokil HAHA. Yang menggunakan motor kudu kuat motornya kalo gak mau berhenti tiba2 di jalan wkwk.

Oke skip akhirnya kami sampai di pos berod ini dan langsung melakukan registrasi dengan biaya Rp 40.000/orang, kemudian mengecek dan mendata logistik atau barang2 yang sekiranya bisa menimbulkan sampah. FYI ketika melakukan pengecekan ini kita bakalan dikasih trashbag buat bawa sampahnya balik ke bawah nih gaes yang nantinya sampah itu bisa ditukarkan dengan sertifikat, wuihhh sabi juga nih strategi untuk tetap menjaga kebersihan gunungnya.

Nah sebelum memulai pendakian berdoa dulu ya gaes biar lancar dan selamat sampai turun lagi ke bawah haha. Pendakian kami dimulai pukul 13.30 dari pos berod ini menuju pos 2 (arban). Ketika memulai pendakian kita langsung disambut sama pepohonan yang lebat yang membuat jalur seperti terowongan gitu dah. Jalanannya masih landai. Di sepanjang jalan ini terdapat jajaran pohon pinus bikin udara sejuk banget. Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke pos arban.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke pos 3 (tegal masawa). Lumayan jauh jarak dari pos 2 ke pos 3 ini dan medannya pun sudah mulai berat. Di sepanjang jalan pepohonannya juga lebat. Kami butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai ke pos 3 ini. Oiya gua lupa antara pos 2-pos 3 atau pos 3-pos 4 gitu ada trek menanjak yang menggunakan tali untuk naik dan hati-hati kalo lewat trek ini pas hujan karena licin banget.

Lanjut jalan ke pos 4 (tegal jamuju). Jalan menuju pos 4 ini lebih berat dibandingan dengan perjalanan pos 2-pos 3 karena medan terjalnya lebih banyak. Pepohonan juga masih sama lebatnya seperti ke pos 3. Kami butuh waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke pos 4.

Perjalanan kami lanjutkan ke pos 5 (sanghyang rangkah). Medan ke pos 5 ini juga bisa dibilang berat, banyak jalanan terjal dan pepohonan juga semakin lebat. Setelah berjalan selama 2 jam akhirnya sampai juga di pos 5 ini pukul 18.30. Di pos 5 ini merupakan tanah lapang yang biasa digunakan para pendaki untuk ngecamp. Berhubung gua kesininya pas libur abis lebaran nih rame banget gaes pos 5 ini udah kaya pasar malem. Akhirnya kami memutuskan untuk turun sedikit kira2 15 meter dari pos 5. Di sana memang berdiri sebuah tenda biru bukan judul lagu ya gaes yang sedang ditinggal oleh sang mpunya. Setelah mendirikan tenda kami memasak air untuk menyeduh jahe merah dan memasak nasi. Ketika kami sedang masak, sang mpunya tenda biru itu datang bertiga, yang ternyata adalah pendaki asal Depok. Kami ngobrol sama pendaki asal depok itu kemudian pendaki itu ngasih tau “hati-hati di daerah sini suka ada babi hutan kalo malem apalagi kalau ada bau-bau amis“. Pas denger kata-kata pendaki itu gua cuma bisa berdoa semoga babi hutannya gak ada malem ini.

Ceritanya kami udah kelar masak nasi nih terus berniat goreng nugget yang tidak disebutkan merknya dan ditengah memasak parafinnya habis. Lalu om gua buka 1 kotak parafin yang masih kami punya dan setelah dibuka *JRENGJRENG ternyata isinya dudukan parafin…. Gua yang sebelumnya membeli parafin itu merasa bersalah karena gak teliti pas beli parafinnya,  abis kotaknya yang sama-sama bermotif loreng sih *maafkeun yah:”).

Terus temen om gua berusaha buat bikin api dari ranting-ranting pohon tapi apalah daya, udaranya lembab susah buat nyari ranting yang kering yang bisa dipake buat bikin api:(. Yaudah akhirnya kita makan seadanya, untung masih ada persediaan tahu sumedang yang dibeli tadi siang jadi ada tambahan lauk buat makan haha dan alhamdulillahnya juga kita dikasih puding sama pendaki asal depok itu rejeki anak sholeh banget wkwk. Makan udah, sholat udah, ganti baju juga udah kami lanjut tidur dan gua juga udah pasang alarm jam 02.30 buat summit attack.

Nah yang menegangkan pas kami lagi tidur, sekitar jam 1 malem gua kebangung karena denger suara lagi mengendus-endus gitu dah dari luar tenda dan gua yang tidurnya paling pinggir tenda tiba-tiba nyium bau gak sedap gitu lewat. Terus dari arah belakang tenda yang banyak pepohonan gua denger sesuatu kaya lagi jalan. Gua langsung mikir “anjirr jangan2 babi lagi nih“. Gua langsung minta tuker pindah spot jadi di tengah dan lanjut lagi tidur.

Puncaknya pas pukul 02.00 nih, temen om gua langsung bangun dan bilang “wah eta babi coy di luar” dan kami satu tenda langsung melek semua. Pendaki asal depok itu juga terbangun akhirnya kami saling bersahutan dari tenda masing-masing dan gak ada yang berani keluar tenda karena takut diseruduk sekumpulan babi yang gak tau dah berapa jumlahnya tuh. Terdengar suara mengecap dari luar tenda sepertinya babi-babi tersebut lagi dinner dan tak lama terdengar suara dari arah pepohonan di belakang tenda dan suara mengendus-endus gua sontak ngomong “wah anjirrr babinya se-RT dah ini kayanya“. Sempat terjadi pertengkaran antar babi tersebut, mungkin mereka memperebutkan makanan karena babi dikenal sebagai binatang yang rakus. Heran gua ini babi kok makan kayanya gak abisabis ya, ternyata eh ternyata logistik kami diambil oleh babi-babi itu. Kebetulan logistik kami taruh dalam plastik di bagian luar tenda tapi masih tertutup kanopi gitu. Untungnya perbekalan air masih utuh gak ikutan diambil babi.

Sekitar pukul 03.00 kami memberanikan diri untuk membuka tenda dan babi-babi itu langsung kabur. Kemudian kami keluar tenda ternyata babi-babi itu masih ada di sekitar tenda. Tak sengaja sedang menyoroti dengan senter ke arah pepohonan gua lihat ada 2 titik merah gitu yang ternyata adalah mata seekor bapak babi hutan kemudian gua saling bertatapan dengan babi itu. Tapi takut babinya ntar naksir kalo diliatin kelamaan, gua langsung masuk ke dalam tenda. Terettt ternyata babi itu sekeluarga gaes mau menyebrang ke pepohonan yang jaraknya gak begitu jauh dari depan tenda gua. Babi yang besar itu berjalanan diikutin oleh kelima anaknya yang cimitcimit dan dibelakangnya terdapat satu babi besar lainnya kaya lagi parade babi gitu deh.

Kemudian kami melakukan persiapan untuk summit attack. Pukul 03.30 kami berangkat. Trek menuju ke pos 6 (goa walet) menurut gua yang paling berat diantara yang lainnya. Sangat terjal dan kadang menemui jalanan yang sempit untuk dilalui. Di perjalanan dari pos 5 ke pos 6 terdapat pertigaan, pertemuan antara jalan menuju puncak, jalur apuy, dan jalur palutungan. Di sepanjang perjalan juga tumbuh tanaman bunga abadi aka edelweis.  Dari ketinggian ini kita bisa melihat kelap-kelip lampu kota Majalengka dan Kuningan gaes. Bintang-bintang bersinar terang dan bertaburan di langit terlihat jelas. Masya Allah indah banget. Pemandangan indah kaya gini nih gak mungkin gua temuin di tempat kelahiran gua sebut saja ia Jakarta. Setelah berjalan 2 jam akhirnya sampai di pos goa walet ini dan kami melakukan sholat subuh.

Lanjut perjalanan menuju puncak. Jalan menuju puncak ini juga sangat berat gaes. Jalanannya berbatu, terjal, dan kemiringannya sangat tajam. Gua mikir jalur pendakian ke puncak via linggarjati dan palutungan kaya apa ya kalo yang via apuy (yang katanya jalur paling mudah di antara ketiga jalur yang ada) aja kaya gini haha. Must try lewat jalur lain nih kapankapan.

Setelah berjalan 30 menit……TADAA!!! Finally we were at the top of Ciremai Mountain ‘The Highest Summit in West Java’ 3.078 MSL. Mungkin untuk om gua dan temennya udah biasa di puncak gunung ciremai ini karena mereka udah beberapa kali ke sini. But for me it’s such amazing thing! I could make it:)

Walaupun gak dapet sunrise tapi bersyukur banget bisa melihat indahnya pemandangan dari atapnya Jawa Barat ini. Waduk Darma di Kuningan dan Situ Sangiang di Majalengka terlihat dari atas sini. Jika beruntung bertemu cuaca yang cerah kita juga bisa melihat CIPAGU (cikuray-papandayan-guntur  yang berada di Garut). Kata om gua juga gunung2 di Jawa Tengah seperti sindoro, sumbing, slamet juga bisa kelihatan dari puncak ciremai ini bahkan laut jawa pun bisa keliatan. But unfortunately I couldn’t see them, maybe next time ya haha.

Kalo dikalkulasiin perjalanan gua menuju puncak ciremai ini adalah 7,5 jam termasuk istirahat di jalan.

  • Pos 1 – pos 2 : 30 menit
  • Pos 2 – pos 3 : 1,5 jam
  • Pos 3 – pos 4 : 1 jam
  • Pos 4 – pos 5 : 2 jam
  • Pos 5 – pos 6 : 2 jam
  • Pos 6 – puncak : 30 menit

Setelah berpuas ria di puncak ciremai, kami turun lagi ke tempat ngecamp dengan waktu tempuh 1 jam. Karena logistik kami semua diambil sama babi yang tidak punya hati itu akhirnya kita memutuskan untuk cepat-cepat turun ke basecamp dan beli makan di bawah. Tapi namanya juga rejeki anak sholeh ya, pendaki asal depok itu masak banyak banget dan kita diajak untuk makan bareng sebelum turun ke bawah. Masya Allah baik banget pokoknya 3 pendaki asal depok itu dan gua lupa lagi nama-nama mereka siapa aja. Yang gua inget satu perempuan Ka k Arida, doi kuliah di Gizi UPN Veteran Jakarta. Udah selesai makan akhirnya kami sedikit bantuin pendaki depok itu packing dibantu sama delapan pendaki asal bandung yang tak sengaja lewat terus bikin plan buat turun bareng. So kami ber15 akhirnya turun sampai ke pos berod. Waktu perjalanan untuk turun ke pos berod kurang lebih sekitar 3 jam.

Itu sedikit cerita gua ke atapnya Jawa Barat nih gaes. Menurut gua, kali ini merupakan perjalanan mendaki yang amazing dan unforgettable banget dah diantara pengalaman mendaki gua yang lainnya karena banyak banget pelajaran yang gua dapet kali ini. DA BEST!!!

Mendaki gunung mengajarkan gua apa itu arti kesederhanaan. Mengajarkan untuk rendah diri, apalah yang mau gua sombongkan, gua ini cuma setitik debu atau mungkin sebuah atom diantara luasnya semesta ciptaan Allah ini. Mengajarkan gua sebenernya kita itu mendaki bukan untuk menaklukan gunung itu melainkan menaklukan diri kita sendiri, menaklukan keterbatasan diri kita. Mengajarkan arti dari sebuah proses. Mengajarkan untuk pantang menyerah dalam mencapai apa yang diinginkan. It is not about how fast you reach the top but how patient you are through the process to reach the top:)

For more information about Mt. Ciremai you can klik this site http://tngciremai.com/ 

20160716_0559061468692558394-011468692622720-01IMG_20160716_071219_HDR

Processed with VSCO with m3 preset

20160716_064846

Processed with VSCO with t1 preset

 

Advertisements